Pendidikan yang Sekarat – Sudah terlalu lama masyarakat Indonesia menerima sistem pendidikan yang usang dan tidak relevan. Kurikulum yang terus berganti tanpa arah jelas hanya membuat generasi muda semakin bingung dan kehilangan pegangan. Bagaimana bisa sebuah bangsa maju jika sistem pendidikannya masih berkutat pada hafalan dan ujian berbasis angka, bukan pada pembentukan karakter dan keterampilan nyata?
Ironisnya, alih-alih memperbaiki inti permasalahan, pemerintah justru terus menumpuk beban pada peserta didik. Guru di paksa mengikuti pelatihan yang tak berdampak signifikan, sementara siswa di jejali materi tanpa ruang berpikir kritis. Jika keadaan ini di biarkan, jangan heran jika kita terus menjadi bangsa yang tertinggal!
Sekolah: Pabrik Buruh, Bukan Pusat Intelektual
Mari kita hadapi kenyataan! Sekolah di Indonesia lebih mirip mahjong wins 3 buruh ketimbang lembaga pencetak pemikir. Dari SD hingga perguruan tinggi, siswa dididik untuk patuh, bukan untuk bertanya. Mereka di tuntut menghafal teori, tetapi minim praktik di dunia nyata.
Bagaimana mungkin seseorang bisa berkembang jika sejak dini di larang berpikir di luar batas kurikulum? Mereka yang mempertanyakan sistem justru di cap pembangkang. Sementara itu, mereka yang patuh tanpa protes mendapatkan nilai tinggi dan di anggap sukses. Apakah ini definisi pendidikan yang ideal?
Pendidikan Gratis: Mimpi atau Ilusi?
Pemerintah sering menggembar-gemborkan pendidikan gratis, tetapi kenyataannya jauh dari itu. Sekolah negeri memang tidak memungut biaya resmi, tetapi orang tua tetap terbebani berbagai pungutan liar, biaya seragam, buku, hingga les tambahan yang seolah menjadi kewajiban.
Lebih menyedihkan lagi, pendidikan berkualitas masih menjadi hak istimewa segelintir orang. Sekolah swasta dengan fasilitas terbaik mematok biaya selangit, sementara sekolah negeri yang katanya gratis justru minim fasilitas. Kesenjangan ini semakin mempertegas bahwa pendidikan di Indonesia bukanlah hak, melainkan komoditas yang hanya bisa di akses oleh mereka yang mampu.
Solusi atau Janji Kosong?
Setiap pergantian menteri, masyarakat selalu di suguhkan janji-janji manis tentang reformasi pendidikan. Namun, perubahan yang terjadi hanyalah modifikasi kecil yang tidak menyentuh akar permasalahan. Dari sistem zonasi yang mempersulit akses pendidikan, hingga kurikulum yang selalu berganti tanpa persiapan matang, semua hanya ilusi perubahan.
Sudah saatnya pendidikan di Indonesia di revolusi! Bukan sekadar perubahan kosmetik, tetapi reformasi total yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran, bukan objek yang dipaksa menelan materi tanpa makna. Jika tidak, maka kita akan terus menyaksikan generasi yang terjebak dalam sistem gagal ini, tanpa masa depan yang jelas.